Revolusi Hulu Migas Indonesia

Industri hulu migas adalah industri yang padat modal, dimana para investor berebut pasar untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi migas. Industri hulu migas ini memiliki tingkat resiko yang tinggi, selain itu juga memerlukan teknologi yang canggih untuk menunjang penemuan minyak dan gas bumi. Di Indonesia sendiri masih memiliki banyak potensi cadangan migas yang belum diekploitasi. Hal tersebut tentu bisa menjadi peluang bagi Indonesia di masa mendatang.

Pada tahun 2018 ini terdapat 8 proyek hulu migas onstream yang akan dikembangkan guna menunjang lifting minyak Indonesia, yaitu optimasi fasilitas produksi Lica oleh PT Medco E&P Indonesia (Maret 2018), Pengembangan lapangan gas Blok A oleh PT Medco E&P Malaka (Maret 2018), Lapangan SP oleh PT PHE ONWJ (September 2018), Modifikasi CPS oleh PetroChina Intl. Jabung Ltd. (Desember 2018), Fase 2 Pandan Ario Dama-Sriwijaya oleh PT Tropik Energi (Desember 2018), Flowline dari Temelat Gas ke Stasiun Gunung Kembang oleh PT Medco E&P (Desember 2018), dan konstruksi subsea pipeline gas lift BW Field Poleng oleh PT Pertamina EP (Desember 2018) .

Selain itu kegiatan pengeboran eksplorasi minyak dan gas bumi pada 2017 yakni tercapai 38 sumur dan target tahun 2018 adalah 108 sumur dalam rencana kerja dan anggaran (work plan and budget/WP&B). Hal ini harus dilanjutkan karena harga minyak mentah dunia kini sudah mulai merangkak naik, data maret 2018 harga minyak mentah dunia mencapai 69,9 USD/bbl. Mentri juga menekankan untuk adanya penyederhaan birokrasi, agar proyek-proyek yang telah direncanakan bisa dengan cepat terealisasikan. Kegiatan eksplorasi ini penting karena dapat menentukan cadangan untuk bisa dikembangkan lebih lanjut kedepannya.

Sedangkan, untuk rencana program WK eksploitasi pada 2018 tercatat sebanyak 627 aktivitas untuk work over, well service sebanyak 55.695 aktivitas, pengeboran 285 sumur pengembangan, pengeboran sumur wildcat/delineation sebanyak 43 sumur, survei seismik 2D sepanjang 3.150 km, survei seismik 3D seluas 3.349 km2 , studi G&G sebanyak 21 AFE, survei/studi lainnya (environmental baseline assessment (EBA), analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dll.) sejumlah 12 AFE, Pre front end engineering design (FEED) sebanyak 6 AFE, dan FEED sejumlah 15 AFE.

Kegiatan eksplorasi dan ekpoitasi migas beberapa tahun silam hanya terpusat di wilayah bagian barat Indonesia sehingga untuk wilayah timur masih tersimpan banyak cadangan yang belum tereksplorasi secara maksimal. Bahkan peralihan daerah eksplorasi ke wilayah laut dalam (deep water) sekarang menjadi fokus para investor. Untuk itu, tentu diperlukan banyak kajian dan penelitian serta teknologi yang canggih untuk mendukung proses tersebut. Kegiatan eksplorasi di wilayah Indonesia timur juga masih terkendala dengan infrastruktur yang kurang memadai. Untuk transportasi sudah menelan banyak biaya yang nantinya akan menjadi tanggungan untuk melanjutkan kegiatan eksplorasi. Selain itu urusan birokrasi dengan pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta warga setempat yang dirasa sulit membebaskan lahannya untuk di eksplorasi membuat stakeholder memutar pikiran dalam memberikan investasi mereka.

Sumber daya alam yang melimpah membuat Indonesia patut untuk diperhitungkan di dunia global. Cadangan energi Indonesia cukup besar jika kita berani untuk mengolahnya sendiri tanpa harus mengekspor barang mentah kemudian mengimpor barang yang sudah jadi. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang cukup ahli dalam mengolah hal tersebut. Selama ini Indonesia menghasilkan minyak dan gas bumi, dan yang banyak digunakan adalah minyak bumi, sedangkan gas bumi hanya diekspor ke luar dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Rata-rata produksi minyak Indonesia pada akhir 2017 berkisar 805.000 barrel per hari (BPOD), dengan konsumsi harian rata-rata 1,4 juta BPOD. Sedangkan gas yang diproduksi pada akhir 2017 mencapai 7.907 MMSCFD.

Untuk sekarang ini semakin maju nya teknologi, gas bumi sudah mulai dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang, salah satunya LPG (Liqufied Petroleum Gas) dan yang terbaru adalah LNG (Liquefied Natural Gas).  Peralihan eksplorasi dari minyak ke panas bumi (geothermal) juga menjadi tantangan dimana dibutuhkan energi baru terbarukan untuk mengolah gas bumi agar bisa dimanfaatkan menjadi energi untuk masyarakat. Sementara ini geothermal di Indonesia sudah menghasilkan listrik sebesar 1340 Mwe dari total cadangan yang bisa dimanfaatkan adalah 28000 Mwe. Masih sekitar 5% Indonesia memanfaatkan energi listrik tersebut, dan masih besar kesempatan bagi Indonesia untuk lebih bisa memaksimalkan potensi cadangan yang telah ada.

Kemudian, sebagian lapangan ekplorasi di Indonesia masih dioperasikan perusahaan asing,  memang tidak dipungkiri keadaan tersebut bisa terjadi. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang mencukupi agar Indonesia mampu mengembangkan kegiatan ekplorasi ini sendiri. Dalam hal ini negara sebagai pemegang kekuasaan sumber daya alam, harus bisa memberikan keseimbangan antara kepentingan publik dan perdata. Supaya investor tetap memiliki ketertarikan dan masyarakat pun tidak dirugikan. Untuk itu, diperlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalisasikan dan mengesfisiensikan energi migas. Ini merupakan tantangan agar kegiatan ekplorasi di hulu migas bisa berjalan dengan baik karena di Indonesia industri migas masih menjadi penyumbang utama bagi devisa negara. Revolusi di sektor hulu migas diperlukan guna meunjang dan mengembangkan dunia migas menjadi lebih baik.

 

 

 

 

Referensi :

Ana Mega

Buletin SKK Migas, “Mengejar Target 2018 Hulu Migas Kerahkan Seluruh Potensi”, Edisi Maret 2018 : https://skkmigas.go.id/images/upload/file/Bumi_Maret_2018.pdf

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *