Nasib 8 Blok Terminasi di Indonesia

Sumber : Jawapos

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, salah satunya dalam bidang energi yaitu minyak dan gas bumi. Untuk dapat mengelolanya diperlukan kerja sama dengan investor luar negeri karena diperlukan biaya yang sangat besar. Kerja sama ini disebut Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau bisa juga disebut Kontrak Bagi Hasil. Kontrak kerja ini memiliki jangka waktu yang terbatas untuk proses eksplorasi dan eksploitasi di wilayah Indonesia. Apabila kontrak kerja habis dan kontraktor tidak memperpanjang kontrak, maka blok yang digarap akan menjadi blok terminasi.

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memutuskan bahwa pada tahun 2018 terdapat 8 kontrak kerja yang berakhir, sehingga blok yang dikelola tersebut akan menjadi blok terminasi. 8 blok terminasi diantaranya yaitu Blok Sanga-Sanga, Blok South East Sumatera (SES), Blok Tuban, Blok Ogan Komering, Blok North Sumatera Offshore (NSO), Blok Tengah, Blok East Kalimantan, dan Blok Attaka.

 

Menurut Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2015 menyebutkan bahwa menteri menetapkan pengelolaan wilayah kerja minyak dan gas bumi yang berakhir kontrak kerja samanya dalam bentuk pertama pengelolaan oleh Pertamina, kemudian perpanjangan kontrak kerja sama oleh kontraktor serta opsi berikutnya pengelolaan secara bersama antara kontraktor dan Pertamina. Dengan kata lain, Pertamina berhak untuk mendapatkan kesempatan pertama untuk mengelola seluruh 8 blok terminasi.

 

Namun peraturan ini sudah tidak diberlakukan lagi, karena adanya revisi yang dilakukan untuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2015, yang kini diubah menjadi Peraturan Menteri ESDM Nomor 23 Tahun 2018 Pasal 2 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Minyak  dan Gas Bumi Yang Akan Berakhir Kontrak Kerja Samanya. Isinya yaitu pertama, perpanjangan kontrak kerja sama oleh kontraktor. Kedua, pengelolaan oleh Pertamina dan opsi berikutnya pengelolaan secara bersama antara kontraktor dan Pertamina. Dengan terbitnya aturan tersebut, kontraktor eksisting yang akan mendapatkan kesempatan pertama untuk mendapat perpanjangan kontrak atas 8 blok migas yang habis kontrak (terrinasi).

 

Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, meskipun mendahulukan kontraktor eksisting dalam urutan pengajuan perpanjangan kontrak, tidak menghilangkan proses evaluasi yang tetap dilakukan pemerintah terhadap proposal yang diajukan kontraktor eksisting tersebut. Apabila dari hasil evaluasi hasilnya tidak memuaskan karena tidak sesuai harapan, maka Pertamina akan diberikan kesempatan untuk memberikan penawaran.

    

 

SUMBER : https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pemerintah-putuskan-nasib-8-blok-terminasi

https://www.cnbcindonesia.com/news/20180427170927-4-12849/pertamina-tak-lagi-prioritas-untuk-kelola-blok-terminasi

http://www.dunia-energi.com/pertahankan-produksi-alasan-pemerintah-prioritaskan-kontraktor-eksisting/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *